Kisah Perang Krueng Pandjo, Serdadu Jepang Menyerah dan Mayor Ibi Hara Bunuh Diri Karena Kalah

perang krueng panjo
Kisah Perwira Militer Jepang Ibihara Melakukan Harakiri di Aceh (illustration)

PKB-Kuta Blang.com | Krueng Pandjo adalah salah satu nama wilayah yang tak asing lagi di mata penjajah, terutama Jepang, dan sangat ditakuti oleh musuh semasa perang memperebutkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Aceh. 

Krueng Pandjo berada di sisi jalan nasional Banda Aceh-Medan di bawah naungan Kemukiman Kuta Meuse,  Kecamatan Kutablang, Bireuen. 

Krueng Pandjo merupakan ibu kota kemukiman dari empat kemukiman yang ada di Kecamatan Kutablang dengan jumlah gampong yang tercatat di sini mencapai 41 gampong.

Seorang ulama Peusangan, yaitu Ustaz Harun Ismail sebelum meninggal tahun 2000 dalamnya berjudul  “Sejarah Perjuangan Rakyat Aceh dalam Mempertahankan Kemerdekaan Proklamasi  17 Agustus 1945”, menulis kisah Perang Krueng Pandjo tersebut agar generasi muda mengetahui perjuangan rakyat Aceh dalam merebut kemerdekaan. 

Dalam menulis kisah perang itu, beliau banyak merujuk pada buku Dua Windu Kodam I/Iskandar Muda  di samping merasakan sendiri kejadian tersebut.

Dikisahkan, ada satu batalion tentara Jepang yang berasal dari Bireuen dan sekitarnya sedang menunggu pemulangan mereka oleh tentara sekutu di Lhokseumawe. 

Lalu, dengan mempergunakan kereta api yang terdiri atas sembilan gerbong dan tiga gerobak bagasi, mereka bergerak dari Lhokseumawe menuju Bireuen pada tanggal 24 November 1945. 

Tujuannya untuk menduduki kembali Kota Bireuen dan merampas senjata setelah diambil paksa oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Sehari sebelum pergerakan tersebut dilakukan, pimpinan Angkatan Perang Indonesia (API) di Bireuen telah  mengetahui rencana itu. 

Mereka juga akan menduduki kembali tempat-tempat semula yang mereka tinggalkan seperti Teupin Mane, Geulanggang Labu, Tamboe, Cot Gapu, Blang Pulo, dan Kota Bireuen yang saat ini dijuluki “Kota Juang”.

Untuk mengantisipasinya maka dengan segera dipersiapkan pasukan API dan barisan rakyat untuk menghadang tentara Jepang di Krueng Pandjo. Penghadangan ini dipimpin oleh Teuku Hamzah dari API, didampingi Letnan Agus Husin, Letnan T.A. Hamdani, Letnan Nyak Do, dan Letnan Yusuf Ahmad.

Adapun massa rakyat yang turun ke Krueng Pandjo untuk menghadang tentara Jepang terdiri atas Barisan Juli yang dipimpin oleh Geuchiek Brahim, Barisan Geulanggang Labu dipimpin Pang Ali dan A.R. Mahmudi, Barisan Samalanga dipimpin Teungku Syahbuddin, dan Barisan Jeunieb dipimpin Peutua Ali.

Selain itu, Barisan Geurugok di bawah pimpinan Tgk Zamzam, Barisan Peusangan dipimpin Teungku Ali Balwi, dan Teungku A Rahman Meunasah Meucap, Barisan Bireuen di bawah komando Na’an Rasmadin, H Abu Bakar, dan Haji Affan. Nama-nama ini sebagaimana tertera pada Tugu Perang Krueng Pandjo.

Semua pasukan itu telah ditempatkan pada posisinya masing-masing dalam keadaan siap siaga menunggu komando dari masing-masing pimpinannya. 

Di tempat penghadangan, di Gampong Pante Gajah, telah dilakukan pembongkaran rel kereta api di  tikungan ujung jembatan Crang Meunje, demikian juga di Blang Kaye Adang.

Ketika kereta api itu tiba di Pante Gajah, masinisnya yang berdarah Aceh melompat ke bawah dan melarikan diri. 

Melihat kejadian itu tentara Jepang langsung menembaknya, tetapi tidak tepat sasaran dan akhirnya ia selamat.

Kemudian tentara Jepang dengan segera menggantikan masinisnya dari kalangan mereka sendiri. Nah, pada saat itulah pasukan Aceh melancarkan tembakan ke arah kereta api.  

Pihak Jepang juga membalas tembakan-tembakan itu. Dua anggota API gugur ditembus peluru Jepang.

Di pihak barisan massa rakyat beberapa orang gugur, di antaranya Mandor Matsyah, Tgk H Cut Ben, M Nur Asam Biden, dan Abdurrahman Geulanggang Labu.

Melihat kejadian itu Jepang berusaha memundurkan kereta api melalui Keude Krueng Pandjo, tetapi mereka gagal mencapai tujuan akhir, karena di Blang Kaye Adang rel kereta api pun sudah dibongkar habis oleh barisan massa rakyat.

Untuk menyelamatkan diri, pasukan Jepang turun dari kereta api lalu membuat pertahanan dengan menggali lubang-lubang dan menempatkan senjatanya di dalam lubang itu. 

Pasukan Aceh terus menyerang dan menghadangnya sampai malam hari tanpa henti sehingga pihak Jepang banyak yang menjadi korban.

Puncaknya, pada 25 November 1945 pagi hari, pasukan Jepang telah berada di dalam lubang-lubang perlindungannya (kuruk-kuruk) yang mereka buat pada malam hari untuk menghindari serangan pasukan Aceh.

Karena Jepang telah memperkuat diri, maka pasukan API dan massa rakyat melakukan penyerangan serempak, sehingga mereka terdesak dan mundur ke tepi jalan kereta api, lalu dijadikan benteng pertahanan. 

Pada saat serangan dilancarkan pasukan Aceh, tiba-tiba dari Bireuen datang Kepala Staf API Daerah, Mayor Teuku A Hamid Azwar bersama seorang juru bicara Jepang bernama Mura Moto.

Melalui juru bicara Jepang bernama Ibi Hara, diadakan kontak dengan komandan Jepang yang berada di dalam kereta. 

Tujuannya agar Jepang menyerahkan seluruh persenjataanya kepada pasukan Aceh. 

Mulanya dia terima usulan  itu dengan baik, tetapi ternyata hanya sebagai tipu muslihat saja untuk mengulur-ulur waktu agar dapat menyerang balik pasukan Aceh.

Setelah gagal, maka pada pukul 14.00  tanggal 25 November 1945, barisan rakyat membuka bendungan (pintu air) di saluran irigasi yang berasal dari Pante Lhong ke Blang Kaye Adang. 

Kemudian dalam waktu singkat air mengalir, membanjiri, dan menghanyutkan semua alat perelengakapan perang Jepang. 

Bahkan semua lubang perlindungan mereka pun dipenuhi air  sehingga persenjataan dan bekal mereka tenggelam dan basah. 

Alhasil, dalam keadaan basah kuyup mereka ke luar dari lubang pertahanannya dan naik ke dalam kereta api.

Pada hari ketiga, 26 November 1945, serdadu Jepang tetap dalam keadaan siaga. Namun, pada pukul 12.40 WIB bendera putih mereka kibarkan tanda menyerah kepada pasukan Aceh.

Pimpinan komando dikembalikan kepada Komandan Operasi Kapten Teuku Hamzah dan ia kemudian berunding dengan Ibi Hara. 

Lalu disepakati bersama bahwa Kapten Teuku Hamzah menerima 320 pucuk senjata api serta alat-alat perlengkapan lainnya. 

Sedangkan serdadu Jepang kembali ke Lhokseumawe menanti datangnya kapal laut yang akan mengangkut mereka ke negerinya. 

Komandan Batalion Jepang, Mayor Ibi Hara akhirnya bunuh diri (harakiri) dan ini memang kebiasaan orang Jepang jika gagal dalam melaksanakan misi atau tugas besar. (Baca : Artikel Asli)


0 Comments